Selasa, 19 Juli 2016

Embun Pagi di Danau Tanralili

“Dek apa yang hal yang menyenangkan selama liburan ini?”, tanyaku pada adik sepupuku. Dijawabnya, “ tidak ada, bosan tinggal di rumah, maunya cepat sekolah”. Kubalas lagi, “ ah kalau liburan malah mau cepat sekolah, kalau sekolah malah maunya cepat liburan”. Dan dia cuma bisa senyum-senyum. Ya berdasarkan pengalamanku saat bersekolah dulu ya seperti itu. Tapi saat memasuki dunia kerja, liburan adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu. Jatah cuti bersama atau libur lebaran buat kami pegawai Cuma 5 hari kerja, ditambah hari Sabtu dan Ahad totalnya 9 hari. Nah, untuk mengisi liburan kali ini, yang pastinya kita silaturahim ke keluarga. Tapi tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, karena lebarannya di kota kelahiranku, akhirnya waktu luang lebih banyak. Bagaimana tidak, setelah lebaran kami bersilaturahim dengan keluarga di sekitar rumah saja. Karena memang mereka tinggal berdekatan dengan kami. Istilahnya sih 1 wilayah itu ya keluarga kami. Jadi, tak perlu kendaraan, cukup berjalan kaki dari rumah ke rumah sudah bisa bersilaturahim. Dalam sehari bisa selesai.

Agenda rutin tiap tahunnya adalah reuni alumni KSR UIN Alauddin Makassar. Bukan reuni arisan, atau kumpul di mall, tapi reunian di alam bebas. Tahun ini berarti untuk kedua kalinya. Setahun lalu sempat kecewaaa sekali, soalnya tiba-tiba tamu bulanan datang sehari sebelum keberangkatan, padahal peralatan pribadi sudah siap. Bersyukur tahun ini bisa ikutan, rencana sudah jauh-jauh hari sebelumnya. Tanggal akhirnya diputuskan 9-10 Juli 2016. Berarti saya dan adik saya bisa ikutan karena kami tidak lebaran di kampung. Tau sendirilah kalau lebaran di kampung, kami harus mengikuti jadwal orang tua yang harus berkeliling ke rumah keluarga dan itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Kembali ke tanralili, mungkin namanya niat, dari dulu sudah pengen kesini bersama teman ladiesku, tapi ada saja halangan. Akhirnya setelah perundingan di grup alumni ksr, diputuskan lokasi kali ini di Danau Tanralili. Awalnya saya kira, tanralili adalah desa di Kabupaten Maros. Ternyata oh ternyata setelah searching sana-sini, saya baru tau kalau letaknya di Kabupaten Gowa, tepatnya di kaki gunung bawakaraeng, berdekatan dengan ramma (searching kalau tidak tau ramma ya).

Singkat cerita, saya dan adik sudah minta izin kepada orang tua. Searching peralatan juga sudah, tapi saya belum dapat carrier yang pas di badan dan berwarna pink (hahaha). Alhasil pinjamlah dengan berat hati ke tetangga sekalian pinjam tendanya.

Persiapan tim juga sudah lengkap, dan akhirnya hari H tiba. Biasalah ngaretnya minta ampuun. Disuruh kumpul di rumah jam 8.30 pagi, berangkat jam 10 paling telat, eh ini malah berangkat jam 12 siang. Belum lagi singgah di minimarket, belum lagi singgah pinjam peralatan yang kurang, belum lagi singgah di mesjid untuk shalat. Daaan kami berangkat sekira jam 1 siang dari mesjid di kabupaten Gowa menuju Malino. Perjalanan memakan waktu sekira 3 jam, karena disertai hujan yang deras. Tiba di Pasar Malino, rombongan kami singgah dulu untuk istirahat sejenak di rumah salah satu alumni. Sambil menghangatkan badan dan makan sore (mie serta nasi). Setelah itu shalat Ashar.

Jam 5 lewat kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Lengkese, desa dimana awal mulai kita berjalan. Jalanan yang berbelok-belok, tanjakan dan turunan membuat rombongan kami berhati-hati membawa kendaraan, apalagi bekas hujan membuat jalanan licin. Perjalanan menuju desa ini terbilang mudah dengan penunjuk arah yang terpasang, tapi kalau bingung bisa tanyakan langsung ke penduduk sekitar. Asal tau saja, di antara kami belum pernah ke Danau Tanralili ( jangan dituruti ya).

Tiba di Desa Lengkese kami memarkir motor di samping gedung pengamatan gunung bawakaraeng. Setelah itu shalat magrib di rumah warga, setelah itu kami menuju rumah warga, di sana kami registrasi dan membayar masing-masing Rp 5000/orang. Karena sudah malam dan di antara kami tidak ada yang mengetahu jalurnya, maka kami disarankan untuk ikut rombongan yang lain.

Alhamdulillah rombongan yang lain sudah tiba, kami bersama berjalan menuju jalur ke Danau Tanralili. Dan ternyata mereka taunya jalur lama dan jalur lama sudah ditutup bahkan sudah tertutup semak belukar. Akhirnya 2 kali kami mencari jalan baru deh dapat jalur yang baru. Dan tentu saja jalur yang baru lebih jelas terlihat.

Perjalanan dimulai dengan tanah yang landai, kemudian disusul tanjakan berbatu. Jalan landai lagi, kemudian turunan, tanjakan. Kira-kira ada 3 tanjakan yang betul-betul menguras energi. Saya beberapa kali istirahat tiap kali melihat batu besar untuk diduduki, karena tidak adanya tanah yang datar. Perjalanan kami tempuh kurang lebih 3 jam. Hampir pukul 11 malam kami tiba, dan langsung membuat tenda, yang lain memasak makanan.

Pagi hari menjelang, kami disibukkan oleh kegiatan masing-masing, ada yang memasak, foto-foto, dan ada yang asyik menikmati suasana danau tanralili.

Tepat jam 10 pagi, kami kemudian mengemasi barang dan kembali ke Desa Lengkese. Di sinilah, pemandangannya yang benar-benar indah bisa kita saksikan bersama. Jalur yang terjal, panas matahari yang terik, dan juga beban di pundak tidak menyurutkan langkah kami, dan sesekali untuk mengambil gambar mengabadikannya dalam kamera masing-masing. Pukul 13.00 wita, kami tiba di Desa Lengkese dan hujanpun seolah sepakat untuk membiarkan kami tiba terlebih dahulu sebelum membasahi bumi.

Rabu, 29 Juni 2016

Dari Kota ke Desa, Mudik?!!! Oh Nooooo!!!!

Dari Kota ke Desa, Mudik ?!!!?!??? Oh Nooooo!!!!!
Lebaran sebentar lagi...
Lebaran sebentar lagi...

Seperti tahun-tahun sebelumnya, mendekati hari lebaran, beberapa orang sudah mulai memikirkan mudik. Kebiasaan di negara kita ini, kalau lebaran ya harus mudik ke desa atau kampung halaman tercinta. Kebiasaan ini sudah turun temurun loh. Rasanya ga lengkap kalau tidak lebarang dengan keluarga tercinta. Coba deh cek atau searching di mbah google mengenai negara mana saja yang tingkat mudiknya tinggi di saat menjelang lebaran.

Sesuai tema minggu ini, apa yang tidak menyengkan saat mudik lebaran? Untuk tema kali ini, saya tidak bisa mengambil banyak dari pengalaman saya sendiri, karena yang namanya mudik sebenarnya saya tidak mudik, karena kampung halaman saya di sini, kota saya sendiri. Tapi karena keluarga dari ibu yang berasal dari daerah lain, ya mau tidak hampir tiap tahun kami sekeluarga lebaran di sana.

Nah, untuk menjawab beberapa pertanyaan terkait tema di atas, saya rangkum hasil wawancara saya via whatsapp dari beberapa sumber. Sumbernya juga adalah teman dan kerabat dekat, yah boleh dikata tiap tahun mereka mudik lebaran.
1. Rasa tidak aman.
Rumah yang ditinggalkan mudik tentu saja membuat kita was-was dan membuat rasa tidak aman. Selalu kepikiran jangan sampai ada tamu tak diundang yang masuk (jangan sampai deh). dan juga rasa tidak aman dalam perjalanan. Entah perjalanannya jauh atau dekat. Apalagi kalau naik angkutan umum, harus lebih waspada. Jangan sampai ada pencopet atau perampok.
2. Terlalu kacau dan sesak.
Ini menyangkut banyaknya orang yang bersamaan mudik, akhirnya suasana di terminal, bandara, stasiun, apalagi jalanan menjadi sesak dan bahkan kacau.Orang-orang pada tidak sabaran, ingin secepatnya kembali ke kampung halaman bertemu dengan keluarga tercinta
3. Antrian panjang.
Untuk menghindari antrian yang panjang, sebaiknya datang ke bandara/ terminal/stasiun lebih cepat dari biasanya. Ini bisa juga antrian di jalan masuk tol.
4. Terlalu merepotkan.
Makin banyak anggota keluarga, makin remponglah mudik kita. misalnya yang satu mau ke sini dulu, yang satunya harus ditunggu dulu. Ini melatih kesabaran kita dalm bertoleransi.
5. Capek
Durasi perjalanan yang lama membuat kita lelah, lelah hati dan raga ini. (ih koq mulai lebay) Termasuk juga bagi yang membawa kendaraan pribadi, pastilah lebih berasa capeknya.
6. Jaringan internet yang timbul tenggelam.
Kalau kalian terbiasa dengan internet, yah pastilah persoalan ini menjadi hal yang paling tidak menyenangkan. Bagaimana tidak, tiap hari buka sosial media dan tiba-tiba jaringan internet di kampung tidak bagus. Timbul tenggelam seperti perasaan ini (hahaha).
7. Mudik sendiri.
Pernyataan ini dari sumber yang lagi jomblo. Kalau ada yang mau daftar, silahkan.
8. Jauh darimu.
Mancing baper deh, ini nih yang punya pacar di kota terus mau mudik jadi baper deh karena jauh dari si dia.
9. Packing baju.
Kalau ini sih, orang yang tidak biasa packing ya pastilah agak rempong dengan packing baju. Tahu tidak, kalau packing baju itu ada tekniknya supaya tas atau koper bisa muat banyak barang.
10. Macet.
Ini memang menjadi hal yang selalu ada tiap tahunnya, eh bukan saja tiap tahun, bahkan tiap ada liburan panjang pastilah jalanan macet. Macet di jalan raya, di tol, di jalan poros antar kabupaten. Macet di jalanan menuju bandara. (Asalkan tidak macet ke hatimu)
11. Jauh
Jarak jauh atau dekat menurut saya relatif sih. Bisa saja berbeda pulau tapi waktu tempuhnya yang cepat, misal dengan menggunakan pesawat bisa tiba dengan cepat. Sedangkan tempat mudik yang berada 1 pulau bisa saja ditempuh berjam-jam disebabkan karena macet.
12. Memasuki suasana rumah, jadi teringat keluarga yang telah tiada.
Terkhusu buat kalian yang salah satu atau mungkin lebih anggota keluarganya yang telah tiada memang lebih berasa sedih saat mudik lebaran.
13. Ditanya pertanyaan yang tidak jelas penanyanya ngapain tanyain.
Ini salah satu contoh pertanyaannya, “ sudah punya pacar belum di kota?”. Ini maksudnya apa coba? Apa karena sudah bosan tanya “kapan nikah?” (hahahaha)

Mungkin itu beberapa yang bisa saya rangkum dari beberapa sumber saya yang memang sudah berpengalaman di bidangnya masing-masing. Kalau kamu? Share donk pengalamannya.

Rabu, 22 Juni 2016

Ceritaku di Bulan Ramadhan

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al Baqarah : 183)

Demikianlah petikan terjemahan ayat Al Quran QS. Al Baqarah ayat 183. Ramadhan telah tiba, setelah kita menunggu selama setahun. Alhamdulillalh kita dipertemukan lagi dengannya. Ibarat seorang kekasih yang dipisahkan selama setahun dan dipertemukan kembali. Apakah kalian bisa membayangkan betapa rindunya. Bukankah jarak dan ruang yang memisahkan berefek rindu yang makin besar.

Saya memilih judul ini karena mau menceritakan beberapa rutinitas di bulan Ramadhan. Seperti yang kita tahu tahun ini sudah memasuki bulan Ramadhan 1437 H. Menjalani aktivitas selama bulan Ramdhan bukan perkara gampang saudara-saudari sekalian. Bukan hanya orang yang beragama muslim, bahkan non muslim mungkin yang tinggal di negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim. Lihat saja di tivi banyak menayangkan iklan bumbu masak dan masakannya, sirup, sarung, dan segala macam yang berbau Ramadhan. Apakah ini bukan semacam toleransi kepada umat muslim? Warung ditutup pada siang hari, apalagi di daerah saya sendiri. Kalaupun ada warung, rumah makan, ataupun restoran buka di waktu siang, diharuskan memberikan semacam tirai agar orang-orang yang berpuasa tidak melihat aktifitas di dalamnya.

Ah cukuplah bicara soal itu. Mari kita kembali ke beberapa hal mungkin bisa saya urai di sini yang termasuk rutinitas dalam bulan Ramadhan yang mungkin saja berbeda di bulan yang lain atau bahkan mungkin masih sama. Ini beberapa contohnya :

1. Bangun dini hari.
Bangun dini hari antara jam 3 atau jam 4, untuk memasak makanan sahur. Kalau saya sih mengakalinya dengan mengolah semua bahan di waktu sebelum berbuka puasa terus disimpan di kulkas. Saat waktu sahur, semua yang sudah diolah tinggal dimasak atau bahkan ada yang hanya dipanaskan. Ini menghemat waktu, apalagi kalau bangun dini hari untuk memasak konsentrasi bisa menurun karena kantuk.

2. Sahur bersama.
Moment ini sangat penting untuk ajang berkumpul dan bercerita bersama keluarga, apalagi kalau masing-masing anggota keluarga sibuk dengan urusan masing-masing. Ini sama halnya pengganti sarapan pagi.

3. Shalat jamaah di mesjid ataupun di rumah.
Kalau hari di luar Ramadhan jarang ke mesjid, ini malah subuh pun mesjid ramai dengan jamaah. Entah mereka memang niat ke mesjid atau hanya bertemu dengan ehm. Apalagi shalat Isya dan Tarawih, jamaahnya ramai pakai sekali. Tapi dari beberapa pengalaman bertahun-tahun, mesjid ramai saat 1-2 minggu awal Ramadhan. Selanjutnya ya, kalian tahulah kemana jemaahnya.

4. Tadarrus.
Kegiatan ini yang membuat ramai mushallah kantor, di jalan bahkan di mesjid. Karena selama sebulan memanfaatkan waktu supaya bisa tamat tiga puluh jus. Bahkan ada yang 2-3 kali tamat Al Quran dalam sebulan. (saya saja belum bisa sampai berkali-kali tamat) Bagaimana tidak, saya lihat sendiri, bagaimana bisa sampai seperti ini. karena ditiap kesempatan yang ada, orang ini selalu tadarrus.

5. Tidur lagi setelah shalat subuh.
Siapa yang seperti ini? hayo ngaku?.. Saya ngaku deh. Tidak bisa dipungkiri kantuk yang merajalela setelah shalat itu luar biasa godaannya. Dan akhirnya sampai tertidur. Daripada tidak konsen selama ngantor.

6. Ke kantor lebih lama dibanding hari di luar bulan Ramadhan.
Maksudnya begini, biasanya kan kita masuk jam 07.30 dan kalau di bulan Ramadhan itu masuknya jam 08.00 pagi. Saya cukup terbantu loh, karena dengan begitu tidur pagi lebih lama. (hahaha)

7. Tidur di kantor.
Siapa nih yang punya kebiasaan seperti ini? (saya tidak donk) Beberapa orang yang saya kenal ada yang seperti ini, sekalinya mulai siang, mereka sudah menghilang satu persatu. Kemana? Ya kemana lagi kalau bukan ke mushallah, perpustakaan, bahkan di bawah kolong meja juga menjadi tempat tidur mereka.

8. Shalat jamaah dan kultum.
Ini kebiasaan yang baik di bulan Ramadhan, shalat jamaah biasanya pesertanya itu itu saja. Tapi sekarang malah bertambah dan bervariasi malah. Saya katakan bervariasi, karena di isi dengan anak-anak karyawan yang lagi liburan. Daripada liburan kemana-mana mending di bawa ke kantor dan turut meramaikan. Setelah shalat dilanjutkan kultum, yang tiap harinya berbeda-beda orangnya.

9. Pulang lebih cepat.
Biasanya nih pulang jam 4 sore, tapi sekarang pulang jam 3. Supaya apa? Ya supaya bisa membuatkan hidangan berbuka puasa bagi keluarga.

10. Buka puasa bersama teman sekaligus reunian.
Buka puasa bersama sekaligus ajang reunian kerap terjadi. Bisa kita lihat di warung makan, banyak orang berkumpul dalam satu meja dengan usia yang sama, atau mungkin dengan latar belakang tempat kerja yang sama, atau oraganisasi yang sama.

11. Buka puasa di kantor jika ada rapat diluar jam kerja.
Kalau ini sih, tahun ini lebih rajin buka puasa di kantor karena ada kegiatan sampai malam.

12. Ngabuburit bersama teman.
Kadang saya salah artikan ngabuburit. Kalau mau diartikan saat kita menunggu datangnya waktu Magrib. Sekarang malah beredar di situs jejaring sosial kepanjangan dari ngabuburit yaitu Ngajak Buru Buru Merid, (hahahaha) ada-ada saja.

13. Olahraga, olah pikiran, dan olah hati.
Jangan sampai malas mengolah kepoin di atas ya. Kalau tidak bisa olahraga seperti biasa, cukup dengan olahraga ringan saja, minimal satu jam sebelum berbuka puasa. Olah pikiran, kita bisa membaca buku, berdiskusi tentang tema-tema yang lagi hits. Atau mungkin menulis di blog, buku atau media lainnya. Sedangkan olah hati, ya seperti istilah anak kekinian jangan sampai baper (bawa perasaan). Yang sabar, ikhlas, dan bisa saja banyak istigfar, dzikir dan berdoa kepada Allah supaya diberikan jodoh yang terbaik eh. 

14. Banyak ibadah, zakat, dan sedeqah.
Salah satu kewajiban kita umat muslim di bulan Ramadhan yaitu membayar zakat fitrah. Kalau mau lebih jelasnya bisa browsing ya. Soalnya saya bukan guru agama, atau alim ulama. Setidaknya dalam bulan Ramadhan salah satu yang patut disyukuri karena ibadah diperbanyak, kegiatan sosial juga diperbanyak.

Harapan saya, kegiatan yang positif dibulan Ramadhan mengapa tidak kita lanjutkan saja di luar bulan Ramadhan. Waktu kita di dunia semakin sempit, mengapa tidak kita mengisi dengan hal-hal yang positif?

Semoga tahun ini bukan Ramadhan yang terakhir bagi kita semua. Dan yang masih sendiri di tahun ini, mudah-mudahan tahun depan sudah tidak sendiri lag (khusus yang single). Semoga doa-doa kita di ijabah olehNya. Amin.

Wassalam.

Rabu, 15 Juni 2016

Berteman dengan malas? Apa salahnya?

Malas, kata itu membuat keningku berkerut, alis terangkat naik dan ekspresi muka yang entah mau dijelaskan seperti apa. Apakah ekspresi kalian juga sama seperti saya? Sering kali kalau kita bertanya kepada seseorang,” ayo kerjakan ini” , dan dijawab “malas nanti saja”. Rasa-rasanya mau cubit, jewer kupingnya, atau mungkin saja kalian tidak ambil pusing alias cuek saja.(maaf ya yang tersinggung)
Saya, juga termasuk beberapa orang di sekitarku, tidak bisa menghindari penyakit malas. Saya katakan penyakit, karena kadang datang kadang pergi. Kadang malas membersihkan rumah, malas mengangkat telepon, malas mencuci piring, malas berolahraga, malas bergerak, malas beranjak dari tempat tidur, malas belajar, malas bekerja, malas menulis, bahkan malas mengunyah alias malas makan. Kamu salah satu dari yang saya sebut? Tersinggung? saya sih malas menanggapi.(hahaha).
Malas dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) artinya tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Siapapun bisa kena, mau diri sendiri, ayah, ibu, kakak, adek, nenek, kakek, tante, om, teman, tetangga dan siapa saja yang berada di sekitarmu. Mungkin saat saya sebutkan, kalian sudah terbayang siapa saja yang mempunyai penyakit malas untuk waktu tertentu bahkan untuk kegiatan tertentu. Kapan waktunya? Ya bisa saja sekarang, saat kalian melihat tulisan yang tidak penting ini. (hahahaha).
Bagaimana cara mengatasi rasa malas? Ah saya tidak bisa sharing tips-tips sih. Cuma ada beberapa yang saya lakukan apabila sudah terlanjur malas. Pertama bangun motivasi diri, setidaknya bicara pada diri sendiri saya tidak akan malas-malasan. Harus bergerak, aktif, tidak boleh berdiam diri. Memotivasi diri bahwa malas hanya membuang-buang waktumu. Malas tidak akan membuatmu maju, malas tidak akan memberikanmu uang.
Saya pernah menonton sebuah film, saya lupa judulnya apa. Tapi film itu menceritakan kisah saat dunia hanya bisa dibayarkan dengan waktu. Ya, tiap kali kita kerja, maka kita dibayar dengan waktu. Maka semakin lama kita bekerja, waktu kita di dunia akan semakin lama. Tapi untuk membeli kebutuhan sehari-hari juga dengan waktu. Kalau jaman sekarang, apapun yang kita beli butuh uang, bekerja juga karena butuh uang. Orang kaya raya memiliki waktu yang tidak terbatas. Melihat film tersebut saya sadar bahwa kita tidak bisa hanya menyia-nyiakan waktu hanya untuk bermalas-malasan. Bergerak dan terus bergeraklah. Kalau badan tidak bergerak maka akan bermasalah dengan badan. Otot yang tidak atau jarang digunakan akan membuat tubuh kita menjadi timbunan lemak yang biasa disebut kegemukan.
Saya juga pernah mendengar quote seperti ini dari guru saya, “ tidak ada orang yang bodoh di dunia ini, yang ada hanyalah orang malas”. Ya, bisa dibuktikan sendiri, orang yang mungkin dikira bodoh saat SD tapi saat SMP malah dapat ranking satu, justru kebalikan dari kamu mungkin? Kamu tahu kenapa seperti itu? Karena dia mengesampingkan penyakit malasnya untuk belajar.
Ada satu lagi yang mejadi kepikiran saya kali ini. Malas bisa membuat orang lebih kreatif. Karena malas mengerjakan apa-apa terlalu lama, maka dibuatlah metode untuk mempermudah pekerjaannya. Contohnya TV jaman dulu itu tidak ada yang namanya remote. Setiap mau pindahkan siaran, harus jalan ke depan TV terus pencet-pencet tombol. Nah, kalau sekarang ? mana ada TV yang tidak pakai remote? Untuk apa? Untuk memudahkan si pemiliknya supaya tidak perlu ke depan TV hanya untuk memencet tombol. Satu lagi contoh, dulu bahkan duluuuu sekali. Masih jamannya ibu waktu kuliah mana ada kendaraan umum. Ibu hanya bisa berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Nah sekarang? Semua dimudahkan, mau ke depan lorong bisa naik becak. Mau ke pasar bisa naik motor. Mau ke kantor bisa naik mobil. Entahlah, itu hanya salah satu pikiran saya saja. Kalau malas memasak nasi, ada rice cooker. Malas mencuci, ada mesin cuci. Menurut saya, tempatkanlah malas pada tempatnya. Ya kalau lagi butuh dikeluarkan, kalau tidak ya dimasukkan kembali ke tempatnya. Asalkan jangan keterusan ya. Apalagi kalau malas bekerja, terus duit dapat darimana? Warisan? Jatuh dari langit? (hahaha) dan yang paling penting jangan malas cari jodoh (uhuk khusus yang single). Kata orang tua dulu, “ jangan malas-malasan nanti rejekinya dipatok ayam”.
Saya sertakan sebuah lirik yang mungkin menjadi salah satu kebiasaan kalian di hari Minggu dan juga kadang-kadang menjadi kebiasaan saya. (hahaha)
Coba searching di google atau sekalian di youtube untuk mendengarkan langsung lagu ini. Judulnya Minggu Malas – Tony Q Rastafara
Minggu siang bermalas-malasan
Setelah bercumbu dengan malam
Tak jumpa cerahnya pagi
Ku asyik menggumuli selimut
Malas... Malas...
Minggu siang bermalas-malasan
Aku ingin memanjakan badan
Hindari semua kesibukan
Ku matikan telepon genggam
Malas... Malas...
Jam dua belas lewat lima menit mataku baru terbuka
Masih ingin berpelukan mesra dengan bantal guling seharian
Feeling ingin minum kopi
Juga pergi ke kamar mandi
Minggu siang bermalas-malasan...
Kalau ada yang tersinggung, dimaafkan ya. Syukur-syukur kalau mau memperbaiki diri lebih baik lagi.

Rabu, 08 Juni 2016

Ada 6 Kebiasaan dalam Menyambut Ramadhan

Ramadhan tiba.... Ramadhan tiba.... Ramadhan tiba.... Salah satu kutipan lagu yang sering terdengar di televisi apabila bulan Ramadhan telah tiba. Iklan sirup, iklan sarung lebih mendominasi itu berarti Ramadhan betul-betul telah tiba. Seperti kebanyakan masyarakat di Indonesia menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita. Pasar dadakan segera bermunculan di pinggir jalan, di depan toko, di depan rumah warga, bahkan di trotoar, yah ini berlaku di daerahku ya (bagaimana dengan daerah kalian?). Di Indonesia sendiri yang merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar tentu saja menyambut Ramadhan dengan begitu senangnya. Bisa kita lihat dengan beberapa kebiasaan masyarakat pada umumnya untuk menyambut bulan suci Ramadan. Contohnya : 1. Belanja kebutuhan pokok Belanja kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras, ayam, sirup, susu, dan masih banyak lagi. Tentu saja harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Jangan ditanya lagi karena permintaan pasar yang semakin besar. Konsumsi masyarakat semakin besar saat bulan Ramadhan. Padahal kalau mau menerapkan hidup sehat, makanlah sesuai yang dibutuhkan, jangan sampai berlebihan. 2. Berlibur Berlibur bersama keluarga atau rekan sepergaulan menjadi pilihan beberapa orang termasuk keluarga saya sendiri. Tepat sehari sebelum Ramadhan, daripada galau menunggu sidang isbat mending kita pergi liburan. 3. Bersih-bersih Bersihkan rumah dengan segala macam perabotannya. Bersihkan hati dari iri, dengki, dendam dan segala macam dosa-dosa sambil meminta maaf di media sosial, salam-salaman dengan rekan kerja, teman kuliah, keluarga. Bersihkan hati dari rasa galau (uhuk). Kan kita mau kinclong sebelum masuk ke bulan Suci Ramadhan. 4. Ziarah kubur Tidak bisa dilepaskan dan dilupakan begitu saja kebiasaan ziarah kubur. Utamanya ziarah ke makam keluarga dan sanak saudara kita. Kalau makamnya bisa dijangkau bisa datang langsung ke sana, tapi kalau tidak bisa ya cukup doakan saja. 5. Pulang kampung Siapa nih yang pulang ke kampung halaman? Untuk apa coba kalau Cuma sehari dua hari ketemu keluarga terus balik lagi? Ah ternyata memang demi mengejar sahur pertama atau buka puasa bersama dengan keluarga. Saya bukan termasuk kategori ini, karena sejak lahir dan besar di kampung halaman sendiri. Dan tidak pernah jauh dengan orang tua. Tapi saya sebenarnya merasakan sendiri betapa sahur pertama dan buka puasa pertama begitu nikmat jika ditemani oleh keluarga terdekat kita. 6. Ma’baca doa Mungkin ada yang belum familiar dengan kata di atas, tapi daerah Bugis dan Makassar sudah tidak asing lagi dengan tradisi ini. Khususnya anggota keluarga kami. Entah siapa yang memulai tradisi ini dan menyebarkannya. Seperti keluarga saya sendiri, baik keluarga dari Ayah yang asli keturunan suku Makassar, maupun keluarga ibu yang asli keturunan suku Bugis. Kedua belah pihak sama-sama menjalankan tradisi ini. Ma’baca doa artinya membaca doa, yang dimaksud di sini membaca doa yang ditujukan kepada keluarga kita yang telah tiada. Misal kepada orang tua, kakek nenek, saudara yang telah tiada. Seperti tahun ini keluarga dari pihak ayah yaitu tante saya (istri dari kakaknya ayah) mengundang kami sekeluarga untuk datang ke rumahnya. Sehari setelahnya, keluarga dari pihak ibu yaitu tante saya (adik ibu) mengundang kami juga sekeluarga untuk ikut ma’baca. Mengapa dilakukan di rumah adiknya ibu, karena di sana ada nenek saya (orang yang paling tua). Pertama-tama yang harus disiapkan adalah makanan dalam satu nampan, yang biasanya terdiri dari ayam , sup, ikan , nasi, dan terkadang ada kue sebagai makanan penutup. Hari itu kami menyiapkan empat nampan. Kemudian dupa untuk mengharumkan ruangan. Dan tak lupa yang ma’baca doa adalah ustad atau yang sudah biasa melakukan tradisi ini. Dan yang menjadi ustad tentu saja ayah saya sendiri. Dengan memakai baju koko dan songkok, ayah duduk dihadapan nampan-nampan tersebut dan membaca doa dalam hati. Kami sekeluarga juga duduk mengelilingi nampan. Doa ditujukan kepada Nabi Muhammad beserta keluarganya, kemudian disebutkanlah satu persatu nama anggota keluarga yang telah tiada yang akan dikirimkan doa. Akhir doa kami semua membaca surah Al Fatihah. Selesai sudah ritualnya, kami semua lalu makan makanan yang tersedia di nampan tersebut. Menurut saya, tradisi ini sangat bagus dijadikan kebiasaan turun temurun di keluarga kami, karena mempererat tali silaturahim di antara sesama keluarga maupun tetangga. Mengapa saya katakan begitu, karena setelah membaca doa, biasanya pemilik rumah memanggil keluarga dan tetangga untuk ikut menikmati sajian di nampan tersebut sambil bercerita dan kadang bergosip (ups). Itulah beberapa yang dapat saya simpulkan dari beberapa kebiasaan masyarakat di daerah saya. Kalau mau memilih di antara ke enam poin di atas, yang kami lakukan hanya poin 2, 3, dan 6. Kalau kalian poin mana? Apapun pilihan kalian, apapun kebiasaan kalian mari kita menyambut Ramadhan dengan hati yang lapang. Pikiran positif, ibadah diperbanyak, jaga silaturahim. Selamat menyambut Bulan Suci Ramadhan 1437 H. Semoga kita menjadi pribadi yang suci dan bersih setelah berakhirnya bulan Suci Ramadhan. C u next chapter...